Uda Fauzan

Tutup Telinga Anda

Alkisah tentang Nashruddin Hoja dan anaknya.

Pada suatu hari Nashruddin dan anaknya berencana menjual keledai ke pasar hewan. Pasar tersebut jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. maka mereka berdua pun pergi menuju pasar sambil menuntun keledai tersebut pagi hari dengan harapan keledai tersebut terjual dengan cepat.

Dalam perjalanannya, ada seseorang berkomentar "Alangkah bodohnya bapak dan anak ini. Mereka menuntun keledai padahal keledai tersebut bisa ditunggangi. Padahal keledai tersebut tidak sakit. Jadi untuk apa keledai tersebut hanya dituntun?" Komentar orang tersebut terdengar oleh Nashruddin, kemudian tertegun sejenak seraya berfikir, apa yang dikatakan oleh orang tadi ada benarnya juga. Akhirnya dia berkata kepada anaknya, "Nak, mari kita berdua naik keatas punggung keledai ini. Kan keledai ini bisa kita tunggangi." Akhirnya anak dan bapak itu naik keatas keledainya.

Dan dalam perjalanannya selanjutnya, seseorang melihat Nashruddin dan anaknya menunggangi keledai. Orang itupun berkomentar, "Dasar bapak dan anak tidak berprikebinatangan, keledai segitu kecil malah ditunggangi berdua. Tidak ada ibanya sedikitpun. Niscaya kalian berdua akan diminta pertanggungjawaban di akhirat." Komentar itupun terdengar oleh Nashruddin dan akhirnya dia berkata kepada anaknya, "Nak, bapak kasihan dengan keledai ini. Keledai kan juga makhluk Tuhan, kalau kita tunggangi berdua tentu keledai ini kepayahan. Jadi kamu yang duduk diatas punggung keledai dan bapak yang berjalan sambil menuntun keledai ini." Akhirnya mereka berduapun sepakat dan melanjutkan perjalanannya.

Tidak beberapa lama setelah itu, melihat sang anak diatas keledai dan bapaknya berjalan sambil memegang tali keledai, seseorangpun melihat dan berkata, "Dasar Anak durhaka. Bapaknya yang sudah tua kesusahan dan payah malah berjalan sedangkan dia enak enakan duduk diatas keledai." Dan itupun terdengar oleh Nashruddin dan kembali berkata kepada anaknya, "Nak, biar bapak diatas punggung keledai dan kamu berjalan kaki sambil menuntun keledai. Kamu kan masih muda dan kuat sedangkan bapak sudah tua". Anaknya pun setuju dan mereka berjalan kembali.
Share:

Kenapa Saya Suka Vespa?


Sudah dari tahun 2009 saya menggunakan vespa sebagai alat transportasi harian. Vespa orange tahun 1974 type Super senantiasa menemani saya. Si Semok, itulah panggilannya. Terkadang saya menamainya Si Orange.

Awalnya agak minder juga mengendarai si semok, banyak yang bilang itu adalah tunggangan bapak-bapak. Lah saya kan bapak-bapak, mbakbro. Tapi lama kelamaan saya jadi jatuh cinta sama Si Orange. To the point aja ya mbakbro.

Ada beberapa hal yang membuat saya jadi suka menjadikan vespa jadi tunggangan selama ini. Inilah dia, 

TIDAK ADA ORANG YANG MINJAM

Itulah okenya vespa. Lebih kurang 9 tahun saya memakai vespa cm saya dan montir bengkel vespa yang nyoba si Orange. Lainnya gx da. hehehe. Gx ada temen yang ngerengek minjam vespa atau kawan yang memelas minjam vespa buat memprint ketikan atau konco yang cm mau beli lauk. Beda dengan motor plastik. Antri yang minjam. Apalagi dulu pada masa jahiliyah. Ada temen yang pakai motor curhat ke saya, "Zan, saliter awak bali bensin mungkin saparampek liter awak nan maabiahnnyo. Salabiahnyo urang lain'. Behahaha...

Apakah saya termasuk orang yang pelit? Mungkin iyaaaaa.
Share:

Post Populer

Label

Quotes Today

2 Hal Penculik Kesuksesan :

1. Malas

2. Takut